Minggu, 08 Februari 2015

Jokowi Journey adalah buku serial online di Blog Politikerja yang mengisahkan perjalanan Joko Widodo di pentas politik. Sebuah etafe perjalanan mengesankan dari seorang pengusaha jadi walikota, gubernur sampai menjadi presiden.

Jokowi Journey anggap saja sebuah buku digital yang mudah untuk dibaca kapan saja. Dan postingan serial di blog ini, merupakan cara baru bisa mendapatkan informasi lengkap tentang Jokowi ditengah banyaknya buku fisik tentang isteri Iriana tersebut. 

Menguliti dan mengupas sosok Jokowi itu menarik. Lebih dari sekedar melihat sosoknya, karakter dan gaya bicaranya. Tapai bagaimana juga cara Jokowi menangani konflik. Ada arus ketegangan. Terombang-ambing derasnya tekanan.

Tak ada yang istimewa saat Jokowi bicara. Kosa katanya sering diulang. Sesekali kadang berhenti lama. Lalu bercakap tak berurut. Atau sesekali terdiam sebelum merajut kata demi kata. Wajar jika, orang menafsirkan Jokowi sebagai sosok yang tidak tegas.

Postur tubuhnya tak segagah para politisi yang sering tampil di televisi. Jarang berdasi dan berbaju safari. Pakaian putih sering ia dikenakan. Entahlah! Barangkali Jokowi ingin menegaskan ‘kesuciannya’ dalam berpolitik seperti mengutip judul buku Sabam Sirait—politik itu suci.

Baju yang dikenakan Jokowi sempat menjadi trend. Baju kotak-kotak hitam dan merah hati saat mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI. Para penggiat bisnis menjajakan baju yang mirip atau sama persis dengan Jokowi.

Berkah Jokowi juga dirasakan oleh orang yang wajahnya mirip atau disebut Jokowi KW. Sebuah iklan di televisi mempertontonkan bagaimana Jokowi KW bicara. Seolah-olah itu Jokowi sungguhan. Malah si pemeran Jokowi KW itu kini bermain di sebuah acara reality show ‘Kampung KW’

Berkah dari sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh artis dangdut yang mengambil judul Jokowi. Sungguh dalam diri Jokowi menebar berkah dan rupiah bagi orang yang ingin mencari rezeki tambahan dengan memanfaatkan wajahnya yang ndeso dan sederhana itu.

Jokowi menarik karena ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia tak sungkan jongkok menyusuri got demi memastikan saluran air mengalir normal.

Sosok Jokowi bagi orang-orang disekitarnya akan jauh dari ketegangan. Jokowi akan banyak diam jika ada masalah. Ia pun akan mengeksekusi keputusan tanpa bisa ‘dibeli’ dengan rupiah.

Namun, Jokowi juga manusia. Kadang tak mampu berdiri lama dalam tekanan. Ia pun kerap bimbang dan curhat kepada orang-orang tertentu yang bisa dipercaya.

Sejak tahun 2014, Jokowi selalu menjadi hidangan lezat media untuk disajikan kepada pembaca. Namanya kian kinclong saat getol mempromosikan mobil ESEMKA. Berkah dari promosi mobil hasil karya anak sekolah di Solo itu, bisa dikatakan awal peruntungannya menjajal karirnya di Jakarta.

Semua tahu. Jokowi naik tahta politik kepresidenan begitu cepat. Padahal, ia bukan ketua umum partai. Bukan pula elit PDI Perjuangan yang saban hari nongkrong di televisi untuk diminta komentar perihal suatu masalah.  

Jokowi  tidak lahir dari genetik politisi. Berlatar belakang pengusaha, mengantarkan dirinya menjadi Walikota Solo. Dari sanalah, embrio, taqdir dan jalan Tuhan ia jalani sampai namanya mendunia.

Jokowi mencicipi jabatan sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Kedua posisi itu tidak dipenuhi dengan lunas selama lima tahun jabatan. Saat menjabat Walikota Solo untuk kali kedua, ia hanya duduk selama dua tahun.

Karirnya ibarat roket. Melesat tak terbendung. Secepat kilat meraih kursi Presiden. Nasibnya bertalu-talu ketiban berkah dari langit. Jokowi selalu bernasib baik.

Saat perebutan kekuasaan di Ibukota, Jokowi mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo. Jokowi unggul 7 persen dalam putaran kedua dengan kemenangan 53,81%. Sementara, Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli mendapat 46,19%. Pada 29 September 2012 resmilah Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pertama yang berasal dari Jawa.

Namanya kian populer dengan gaya blusukan menyisir gorong-gorong dan sungai-sungai di Ibukota. Media internasional meliputnya dengan antusias. Para jurnalis dunia menganggap, Jokowi bisa membawa perubahan. Bahkan, gaya unik Jokowi disebut The New York Times sebagai "demokrasi jalanan".

Jokowi tidak sempurna saat memimpin Ibukota. Kritik pun muncul dan mempersoalkan berbagai kegiatan Jokowi. Termasuk, kegiatan blusukan yang dianggap sebagian kalangan tidak efektif.

Irman Gusman yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengritik blusukan, karena hanya menghabiskan waktu dan energi. Sementara, yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar interaksi.

Berkah blusukan dari got ke got, dari satu sungai ke sungai yang lain, Jokowi dipercaya sebagai calon presiden oleh PDI Perjuangan 14 Maret 2013. Mandat pencalonan Jokowi di tulis tangan oleh Megawati Soekarno Putri.

Lantas di Rumah Si Pitung, Jokowi merajut niat membaca Bismillah dan siap melaksanakan mandat tersebut. Tak lupa sebuah ciuman ia sematkan kepada Sang Saka Merah Putih.

Pencalonan Jokowi bersama Jusuf Kalla didukung oleh koalisi partai politik yang terdiri dari PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura. Jokowi pun semakin mulus dan bersiap-siap naik tahta menjadi penguasa negeri.

Jokowi nyaris ‘cedera’ setelah pengumuman resmi atau deklarasi sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden bersama Jusuf Kalla. Penyebabnya, ia digugat Tim Advokasi Jakarta Baru di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap meninggalkan jabatan sebagai gubernur sebelum merealisasikan janji melaksanakan program kerakyatan.

Segala cara ‘dihalalkan’ oleh rival politiknya demi menjegal Jokowi agar gugur dalam pertarungan sebagai calon presiden. Tapi lagi-lagi, Jokowi malah mendapatkan pendampingnya, Jusuf Kalla pada tanggal 19 Mei 2014 yang dideklarasikan di Gedung Joeang 45 Jakarta. 


Diseberang sana, rival politik politiknya Prabowo Subianto sudah menunggu berpasangan dengan Hatta Rajasa. Ideal memang, Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta, sebuah duel paling sengit yang pernah terjadi di negeri ini. 

Slider Section