Jokowi
Journey adalah buku serial online di Blog Politikerja yang mengisahkan
perjalanan Joko Widodo di pentas politik. Sebuah etafe perjalanan mengesankan dari
seorang pengusaha jadi walikota, gubernur sampai menjadi presiden.
Jokowi
Journey anggap saja sebuah buku digital yang mudah untuk dibaca kapan saja. Dan
postingan serial di blog ini, merupakan cara baru bisa mendapatkan informasi
lengkap tentang Jokowi ditengah banyaknya buku fisik tentang isteri Iriana
tersebut.
Menguliti
dan mengupas sosok Jokowi itu menarik. Lebih dari sekedar melihat sosoknya, karakter
dan gaya bicaranya. Tapai bagaimana juga cara Jokowi menangani konflik. Ada
arus ketegangan. Terombang-ambing derasnya tekanan.
Tak ada
yang istimewa saat Jokowi bicara. Kosa katanya sering diulang. Sesekali kadang
berhenti lama. Lalu bercakap tak berurut. Atau sesekali terdiam sebelum merajut
kata demi kata. Wajar jika, orang menafsirkan Jokowi sebagai sosok yang tidak
tegas.
Postur
tubuhnya tak segagah para politisi yang sering tampil di televisi. Jarang
berdasi dan berbaju safari. Pakaian putih sering ia dikenakan. Entahlah!
Barangkali Jokowi ingin menegaskan ‘kesuciannya’ dalam berpolitik seperti mengutip
judul buku Sabam Sirait—politik itu suci.
Baju
yang dikenakan Jokowi sempat menjadi trend. Baju kotak-kotak hitam dan merah
hati saat mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI. Para penggiat bisnis
menjajakan baju yang mirip atau sama persis dengan Jokowi.
Berkah
Jokowi juga dirasakan oleh orang yang wajahnya mirip atau disebut Jokowi KW.
Sebuah iklan di televisi mempertontonkan bagaimana Jokowi KW bicara.
Seolah-olah itu Jokowi sungguhan. Malah si pemeran Jokowi KW itu kini bermain
di sebuah acara reality show ‘Kampung KW’
Berkah dari
sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh artis dangdut yang mengambil judul Jokowi.
Sungguh dalam diri Jokowi menebar berkah dan rupiah bagi orang yang ingin
mencari rezeki tambahan dengan memanfaatkan wajahnya yang ndeso dan sederhana
itu.
Jokowi
menarik karena ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Saat menjabat Gubernur DKI
Jakarta, ia tak sungkan jongkok menyusuri got demi memastikan saluran air
mengalir normal.
Sosok
Jokowi bagi orang-orang disekitarnya akan jauh dari ketegangan. Jokowi akan
banyak diam jika ada masalah. Ia pun akan mengeksekusi keputusan tanpa bisa
‘dibeli’ dengan rupiah.
Namun,
Jokowi juga manusia. Kadang tak mampu berdiri lama dalam tekanan. Ia pun kerap
bimbang dan curhat kepada orang-orang tertentu yang bisa dipercaya.
Sejak
tahun 2014, Jokowi selalu menjadi hidangan lezat media untuk disajikan kepada
pembaca. Namanya kian kinclong saat getol mempromosikan mobil ESEMKA. Berkah dari
promosi mobil hasil karya anak sekolah di Solo itu, bisa dikatakan awal peruntungannya
menjajal karirnya di Jakarta.
Semua
tahu. Jokowi naik tahta politik kepresidenan begitu cepat. Padahal, ia bukan
ketua umum partai. Bukan pula elit PDI Perjuangan yang saban hari nongkrong di
televisi untuk diminta komentar perihal suatu masalah.
Jokowi tidak lahir dari genetik politisi. Berlatar
belakang pengusaha, mengantarkan dirinya menjadi Walikota Solo. Dari sanalah,
embrio, taqdir dan jalan Tuhan ia jalani sampai namanya mendunia.
Jokowi
mencicipi jabatan sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Kedua posisi
itu tidak dipenuhi dengan lunas selama lima tahun jabatan. Saat menjabat
Walikota Solo untuk kali kedua, ia hanya duduk selama dua tahun.
Karirnya
ibarat roket. Melesat tak terbendung. Secepat kilat meraih kursi Presiden. Nasibnya
bertalu-talu ketiban berkah dari langit. Jokowi selalu bernasib baik.
Saat
perebutan kekuasaan di Ibukota, Jokowi mengalahkan calon incumbent Fauzi Bowo. Jokowi
unggul 7 persen dalam putaran kedua dengan kemenangan 53,81%. Sementara, Fauzi
Bowo - Nachrowi Ramli mendapat 46,19%. Pada 29 September 2012 resmilah Jokowi
sebagai Gubernur DKI Jakarta pertama yang berasal dari Jawa.
Namanya
kian populer dengan gaya blusukan menyisir gorong-gorong dan sungai-sungai di
Ibukota. Media internasional meliputnya dengan antusias. Para jurnalis dunia
menganggap, Jokowi bisa membawa perubahan. Bahkan, gaya unik Jokowi disebut The
New York Times sebagai "demokrasi jalanan".
Jokowi
tidak sempurna saat memimpin Ibukota. Kritik pun muncul dan mempersoalkan
berbagai kegiatan Jokowi. Termasuk, kegiatan blusukan yang dianggap sebagian
kalangan tidak efektif.
Irman
Gusman yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
mengritik blusukan, karena hanya menghabiskan waktu dan energi. Sementara, yang
dibutuhkan rakyat adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar interaksi.
Berkah
blusukan dari got ke got, dari satu sungai ke sungai yang lain, Jokowi dipercaya
sebagai calon presiden oleh PDI Perjuangan 14 Maret 2013. Mandat pencalonan
Jokowi di tulis tangan oleh Megawati Soekarno Putri.
Lantas
di Rumah Si Pitung, Jokowi merajut niat membaca Bismillah dan siap melaksanakan
mandat tersebut. Tak lupa sebuah ciuman ia sematkan kepada Sang Saka Merah Putih.
Pencalonan
Jokowi bersama Jusuf Kalla didukung oleh koalisi partai politik yang terdiri
dari PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai
Hanura. Jokowi pun semakin mulus dan bersiap-siap naik tahta menjadi penguasa
negeri.
Jokowi
nyaris ‘cedera’ setelah pengumuman resmi atau deklarasi sebagai calon Presiden
dan Wakil Presiden bersama Jusuf Kalla. Penyebabnya, ia digugat Tim Advokasi
Jakarta Baru di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap meninggalkan
jabatan sebagai gubernur sebelum merealisasikan janji melaksanakan program
kerakyatan.
Segala
cara ‘dihalalkan’ oleh rival politiknya demi menjegal Jokowi agar gugur dalam
pertarungan sebagai calon presiden. Tapi lagi-lagi, Jokowi malah mendapatkan
pendampingnya, Jusuf Kalla pada tanggal 19 Mei 2014 yang dideklarasikan di Gedung
Joeang 45 Jakarta.
Diseberang
sana, rival politik politiknya Prabowo Subianto sudah menunggu berpasangan
dengan Hatta Rajasa. Ideal memang, Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta, sebuah duel
paling sengit yang pernah terjadi di negeri ini.